Senin, 25 November 2013

Sebuah Cerita Berhikmah


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Ketika itu seorang bapak yang sedang bersama anak-anaknya bersenda gurau pada kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Rintik-rintik hujan dan suasana yang dingin membuat rasa lapar menyergap perut-perut mereka.

Tek.....tek....bakso.....bakso.... kebetulan pula abang tukang bakso lewat ketika itu, mereka pun memanggil sang abang dengan semangatnya dan segera memesan sesuai dengan jumlah orang yang ada.


Tak sampai sepuluh menit, mereka telah menghabiskan semangkok bakso panas yang tentu saja nikmat, apalagi dengan suasana yang begitu dingin. Sang bapak pun segera menghampiri tukang bakso untuk memberikan uang.

Ketika memberikan uang kepada tukang bakso tersebut, tampaklah wajah sang abang bakso yang berumur dan tampak kerutan-kerutan memenuhi wajahnya yang sudah tua. Bapak itu terheran-heran ketika melihat abang bakso itu memasukkan uangnya ke dalam tiga kaleng berbeda. Karena penasaran, bapak itu pun bertanya,”kok, bapak aneh sih, kenapa uangnya pake dipisah-pisah segala pak?”

Sang abang yang mendengar pertanyaan itu menjawab dengan nada santai, seolah-olah dia sudah sering mendengar pertanyaan yang sama. ”saya membaginya ke dalam tiga kaleng yang berbeda karena memang masing-masing uang mempunyai tujuan yang berbeda”.

Uang yang saya masukkan ke dalam kaleng pertama untuk membiayai kehidupan sehari-hari saya dan modal untuk membuat bakso lagi
Uang di dalam kaleng kedua saya gunakan untuk menambah biaya haji bersama istri saya yang sudah saya kumpulkan selama 17 tahun dan alhamdulillah tahun depan saya akan berangkat menuju tanah suci.
Dan kaleng terakhir adalah uang yang nantinya saya gunakan untuk membeli hewan kurban pada hari raya idul adha dan akan dibagikan kepada orang-orang yang berhak

Sang bapak yang mendengar jawaban tersebut merasa kecil di hadapan abang tukang bakso, sungguh aneh pikirnya, seorang tukang bakso yang mungkin hanya memperoleh untung 30-50 ribu perhari mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan mulia. Namun, sang bapak masih mempunyai pertanyaan yang mengganjal hatinya,”maaf pak, setahu saya, naik haji itu hanya untuk yang mampu”.

Lagi-lagi abang tukang bakso yang tua ini memberikan suatu jawaban yang mungkin akan memotivasi kita semua.”Saya pikir tidak ada satu manusia pun yang bisa menentukan dengan pasti apakah seseorang itu mampu atau tidak, pak RT di rumah saya pun tidak akan bisa, presiden pun juga tak akan bisa, yang saya tahu yang menentukan mampu atau tidaknya seseorang adalah dirinya sendiri. Jika kita yakin kita mampu, maka akan ada begitu banyak jalan terhampar di depan kita.”
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar